Model Interaktive dalam Mewujudkan True Broadband Infrastructure to accelerate Revenue Growth

Model Interaktive dalam Mewujudkan
“True Broadband Infrastructure to accelerate Telkom Revenue Growth”
Oleh : Hendrawan
Are your Priorities fit for the future? (Pwc)
Summary
Pemilihan Infrastruktur yang tepat dalam industri ini akan membawa perubahan dalam dunia telekomunikasi, bisnis jasa/layanan yang lebih kompetitif, mobilitas yang lebih tinggi, dan content  serta layanan yang lebih bervariasi. Penyebab terjadinya perubahan ini adalah pergeseran ekonomi yang tinggi dan permanen di pasar telekomunikasi masa kini, teknologi baru dinamis yang menawarkan kapabilitas yang lebih baik, dan pergeseran kebutuhan informasi yang akurat.
Hal ini pergerakan dan berbagai Strategi yang berlapis dan bertubi-tubi di lingkungan industri Telekomunikasi, dalam rangka mempersiapkan Era Ubiquitous. Kecenderungan ini dapat  mempersulit gerak yang seharusnya diharapkan super cepat dalam industri. Kasus PT. Telkom, yang memiliki strategi berlapis dan dapat dibilang mumpuni dibidangnya, dengan program Strategis di level Korporate, Level Business, Level Fungsional serta program seperti Nusantara Super Highway, program yang mendukung MP3EI dan banyak lagi program strategi dan Teknis lainnya, menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur akan terus berlangsung dan semakin tinggi dalam kompetisi di masa datang.
Terpenting adalah menentukan prioritas di level strategis agar pembangunan True Broadband dan percepatan-Time to Market segera terealisasi,  tidak terjebak dengan  banyaknya program-program dan Strategi, tetapi menjadikannya segera menghasilkan Revenue dan profit, tanpa mengesampingkan nilai tambah dan kualitas serta pelayanan dan kualitas terbaik untuk pengguna/pelanggan.
apa itu Ubiquitos market, Ubiquitos teknologi, …..U-City.. dan yang harus dicapai untuk True Brodband di Masa depan??
Ingin lebih lengkap lagi? saya sajikan dalam bentuk makalah ,  silahkan klik disini…
Salam,
Hendrawan

Perubahan dimulai dari ANDA

Menarik penyampaian Liz Clarke dalam “The Essence of change”, ada beberapa Bab dari buku itu, tapi saya akan tampilkan satu Bab yang menurut saya menarik utk dipelajari bahkan dipraktekan, paling tidak untuk diri sendiri…..pada BAB ke 3 :

Perubahan dimulai dari ANDA.
::Sesuaikan atau Ubah Mind-set Anda, Ubah paradigma, amat luar biasa bila kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk mempertahankan “status quo”, krn satu-satunya tugas penting pemimpin dan manager profesional adalah membuat perubahan terjadi. Masih ingat Problema Sembilan Titik?, banyak cara berpikir kreatif untuk membimbing anda, misalnya Lateral Thinking-nya Edward de Bono atau dalam Lateral Marketing: New Techniques for Finding Breakthrough Ideas oleh Philip Kotler, Fernando Trias de Bes, lengkap filenya saya link-kan, bersama teman-teman sekerja saya, kedua buah buku ini dibedah sampai habis…..dan saya salut dengan cara rekan2 saya menyampaikan dan mengeksplorasinya, tentu saja dengan cara yang menarik sehingga kita semua jadi paham bagaimana cara berpikir Lateral.
::Percayalah Perubahan akan mengubah Anda, Kunci kekuatan emosional dalam menangani perubahan adalah tidak takut pada kegagalan. Bahakan Tom Watson pendiri IBM bilang “Cara untuk sukses adalah melipatgandakan tingkat kegagalan anda”. Karena dengan apapun yang terjadi perubahan akan mengubah Anda.
::Percayalah bahwa Anda dapat Berbeda, bahkan ada pepatah, bila cukup banyak orang yang berkata bahwa perubahan yang anda inginkan itu tidak masuk akal, berarti anda pada jalan yang benar…..Dr. Marshal Sashkin dalam bukunya “Visionary Leadership”, pemimpin yang efektif bercirikan suatu factor yang ia sebut “bottom-line leadership” yaitu keyakinan bahwa anda dapat membuat suatu perbedaan. Perilaku ini datang dari memiliki kepasitas diri bahwa anda dapat mempengaruhi nasib anda dan mempengaruhi orang , kejadian-kejadian dan pencapaian organisasi.
::Paradoks Perubahan pribadi Anda, Orang yang seharusnya memiliki kuasa paling besar untuk mengendalikan adalah Anda sendiri, tapi orang yang paling keras untuk diubah adalah justru diri anda sendiri, hmm….. paradox bukan???. Coba saja, Buat satu pertanyaan, tampilkan List jawabannya secara bebas,… Bagi saya, untuk berubah menunggu……(isi titik-titk ini).
jawabannya bisa menunggu inspirasi, menunggu waktu yang tepat dll….
So…klu diteruskan jawabannya akan semakin banyak….nah itulah hambatan Anda saat ini…betul?

Pada session tertentu, saya pernah mempraktekkan Paradoxial Leadership ini pada Team Kami, tentu saja dengan visualisasi yang dapat membuat mereka tersentuh, dan hasilnya diluar dugaan, nyaris tak terduga, prinsip Membekukan dgn cara mencairkan, mempersatukan dgn memberi konflik, adalah hal paradox, seperti halnya menyikapi indahnya siang dan malam….paradox memang….dan saya masih harus banyak belajar lagi……

::Biarkan pergi, Perubahan hanya dapat dimulai bila satu hal diakhiri dan hal baru harus segera dimulai. Amat berbahaya rasanya bila membiarkan pergi pijakan lalu berayun di tebing yang lain, sama dengan senam juga, anda lepaskan pegangan tali sebelum anda bergerak. Setiap kali seorang mencoba membiarkan pergi kebiasaan yg menyenangkan dan paling diinginkan, selalu ada kendala untuk melepaskannya. Tapi…..inilah petunjuk suatu perubahan, Anda harus membiarkan yang lama pergi!.

::Manajemen transisi Pribadi, sebelum melihat transformasi dalam organisasi, perlu kita cek diri sendiri, apakah sukar mencapai perubahan diri sendiri?

Tidak sulit utk menjawab “saya suka perubahan” tapi akan kesulitan pada realisasi, krn keraguannya, maka perlu dibuat mekanisme pendukung untuk memanajemeni proses transisi. Memanajemeni orang dgn efektif diperlukan pengenalan pribadi, misalnya bukan melihat orang secara ekonomi sebagai bagian dari unit produksi, tetapi bagaimana melihatnya sebagai manusia seutuhnya. Ini merupakan cara utnuk mencegah tekanan dari bawah, maka diperlukan mengenal orang lain dengan “mengenali diri sendiri”. Ada beberapa cara yang diuraikan Liz Clarke dalam bukunya ini dapat membantu.

::Dari “Meddler” ke “Strategist”: Gaya dalam mempengaruhi, perilaku dan hubungan anda dengan tim manajemen anda, merupakan suatu factor penentu dalam dalam memanaje perubahan dan menyadari potensi pertumbuhan bisnis. Clarke menggambarkan hal ini dalam bentuk matriks, Ada dua unsur kunci dalam ubungan ini, pertama, Sumbu Vertikal, waktu yang dihabiskan untuk kegiatan2 Rutin, Nilai Tinggi dan Rendah, Kedua, sumbu Horizontal, keahlian dan kualitas tim menajemen secara total, ditunjukkan dgn nilai tinggi berarti Mandiri, kemampuan kaliber tinggi, dan tim manajmen yang berpikir mendalam, dengan Nilai rendah berarti belum terlatih, baru, tidak punya keyakinan diri, dan tim yang sangat tergantung.

Akhirnya akan muncul empat tipe/Gaya dalam matriks, 1. HERO – Pahlawan, 2. ARTISAN – Tukang, 3. STRATEGIST – Perancang strategi, dan 4. MEDDLER – Si Usil. Keempat gaya diatas dapat diterapkan pada fase tertentu, apakah pada masa pertumbuhan, pelaksanaan dll. Dengan tools ini Bisa diukur Anda berada dimana!! tertarik?!
salam,
H1
note:
Referensi lain bisa anda dapatkan pada jurnal ini:
Strategic management or strategic Taylorism? A case study into change within a UK local authority Christopher Stoney The Management School, Imperial College, London, UK, 2001.

>Belajar dari Keunggulan Universitas Harvard

>Iseng-iseng baca jurnal bisnis lawas milik harvard, saking kagumnya sama analisisnya ……..ahh..kenapa gak nulis tentang harvard saja, walaupun gak pernah belajar di harvard hehe….akhirnya….

Siapa yang tdk kenal “Harvard University“, dan siapa yang tdk bangga bila anaknya dapat kuliah disini, termasuk orang AS sendiri, Universitas ini bukan hanya terkenal karena kemegahan Sarana dan prasarana yang dimilikinya, baik dalam mendukung proses belajar mengajar dalam perkuliahan, tapi juga sistem kurikulum, metoda belajar, kualitas pengajar dll, menjadi acuan perguruan tinggi di dunia. Sebagai contoh, Harvard business Review , yang merupakan kumpulan2 artikel dan jurnal2 Bisnis terkini, selalu dijadikan acuan oleh para pebisnis dan pendidikan di dunia dalam menganalisis setiap permasalahan kompleks namun diselesaikan dengan cara-cara yang cermat, dan hasil yang luar biasa.

Universitas Harvard yang berdasarkan sejarah berdirinya Universitas Harvard didirikan oleh seorang dermawan kelahiran Inggeris, John Harvard di Thn 1636, yang meninggal di thn 1638 dan meninggalkan perpustakaan dan rumahnya untuk institusi ini, diawal berdirinya dia hanya mempunyai Sembilan murid, dan Tujuh dari muridnya menjadi Presiden, hmmm….hebat kan?
Saya pernah nonton Film berjudul “Love Story in Harvard”, selain memang film drama ini bertema kisah percintaan mahasiswa Korea yang kuliah disana, namun latar belakang lingkungan Harvard jadi mewarnai cerita ini, menambah cerita menjadi lebih berbobot. Bagaimana perjalanan seorang mahasiswa dalam mencapai kesarjanaannya selalu dihadapkan pada kasus-kasus real dilapangan, jadi bukan melulu teori….wuih…bandingkan dgn kita yg melulu masalah teori…prosentasi perkuliahan di lapangan sangat kecil…

Seorang Mahasiswi kedokteran, pada semester2 tertentu langsung terjun di RS, dgn berbagai kasus penyakit yg ada di masyarakat dan mempelajarinya dengan bimbingan seorang Dosen yang juga dokter ahli di bidangnya, membuat analisis penyakit, tindakan emergency yang diperlukan, keakuratan dalam mengambil keputusan sangat membantu dalam tindakan menyelamatkan nyawa orang lain, dan setiap selesai dalam tindakan atau peluang tindakan, dilalui dgn diskusi cepat dan taktis oleh pembimbing dosennya….

Lain lagi cerita dari seorang Mahasiswa Hukum, bernama Jin Xian Yin (mahasiswa baru dalam cerita ini) ketika seorang mahasiswa baru masuk dalam perkuliahan. Dalam proses belajar mengajar dan diskusi, setiap si Jin ini angkat tangan mau menjawab, bila ada pertanyaan yang dilontarkan oleh sang profesor ahli hukum ini, si Jin tdk pernah ditunjuk utk menjawab, justru diserahkan pada yang lain, bahkan oleh rekan-rekannya juga dukucilkan, tdk pernah diajak dalam team/Regu diskusi.

Sampai suatu saat sang Profesor memberikan pertanyaan tentang keadilan dan saksi dalam suatu persidangan, si Jin memberanikan diri menjawab tanpa angkat tangan, katanya…….bahwa seorang tertuduh disaat lemah secara argument dan saksipun, tetap harus mendapat perlindungan, seperti halnya dalam kelas ini. Si Profesor bertanya balik, dgn mimik marah agar pembicaran dihentikan, namun si Jin tetap mengemukan Argumennya, krn sudah merasa dipinggirkan di kelasnya.

Kemudian professor bertanya, apa yg dimaksud dari ucapan mahasiswanya tadi?….si Jin Menjawab lagi : “ketika saya masuk ke Harvard semua dilakukan melalui tes ketat, dan saya berhak berada disini dan mendapat perlakuan yang sama dengan mahasiswa lain, sementara dia mendapat perlakuan berbeda, agar dia mengundurkan diri dari perkuliahaan ini, dan anda sbg dosen harus membuktikan bahwa saya tidak layak ada disini, saya akan tetap disini, dan melaporkan ke dewan universitas atas tindakan anda, dan akan saya pertahankan atas kelayakan saya disini”….
setelah melalui perdebatan panjang dgn sang Profesor, dan si Jin sanggup menjawabnya, akhirnya si Profesor tersenyum, ditambah dgn dengan tepuk tangan teman2nya….bahwa ternyata, maksud dari perdebatan tadi itu, sang professor mendidik seorang calon pengacara harus punya keberanian, mengambil resiko dan mempertahankan haknya….krn di dunia nyata, hal semu bisa saja terjadi, dan seorang pengacara harus sanggup memformulasikan dan pada akhirnya dapat membela orang lain.

Ditambah lagi kasus lain yang menyangkut dinamika permasalahan lebih nyata, kasus kedokteran dll, yang dilihat dari pandangan hukum, benar-benar dinamis,…. Itu adalah sekilas kehidupan di kampus nomor wahid, yang dilihat dari pandangan luar, dari sebuah film bisa benar bisa tidak…..dalam kenyataanya??? Saya kira tidak akan banyak berbeda dari itu, melihat kenyataan kulaitas lulusan ini…..

Tidak Heran bila Harvard selalu bertengger dalam peringkat perguruan tinggi dunia di situs webometrics misalnya, atau lihat ranking Perguruan Tinggi (PT) dunia di situs lainnya. Untuk ukuran Asia, lebih banyak dikuasai PT Jepang, China, singapura dan korea, bandingkan dgn peringkat 10 besar PT Indonesia di peringkat dunia (Gambar).

Top 10 Perguran tinggi di indonesia dan peringkat di Dunia
sumber: Webometric

Kenapa demikian?, barangkali, bukan hanya peran Pemerintah yang mendukung independensi system Pendidikan di PT ini lebih mumpuni di dibidangnya, tetapi juga yang lebih penting adalah system dan kurikulum PT itu sendiri dalam mencetak para mahasiswanya agar dapat diminati masyarakat, dunia kerja dll.
Sebagai bangsa Indoneisa, saya harus optimis, PT kita ini dapat mencapai taraf2 yang memiliki kemampuan seperti halnya PT bertaraf internasional, walaupun ada beberapa PT yang sudah mengarah kesana, terlebih utk pencapaian Gelar Master (strata 2 atau s3 doktor) ada yang sudah mengarah melibatkan dunia real krn kebanyakan mahasiswanya krn sudah bekerja………dan rasanya harus dimulai dari pengelolaan pendidikan dasar…..iya kan??, krn system pendidikan adalah pola yang harus berkelanjutan, mengingat SDM adalah asset jangka panjang, yang tdk bisa menuai hasil dalam sekejap…tetapi kualitas pendidikan saat ini akan menentukan maju mundurnya bangsa ini di 10, 20 dan 50, 100 thn kedepan…. Atau anda adalah lulusan Harvard atau lulusan PT di belahan dunia lainnya?, plizzz…….kasih komentar…..

salam.
H1

.